Selasa, 26 September 2017

Distraksi

   

"Learn to fight all battles alone"  
     
    Bukan. Tulisan ini bukan tentang sebuah lagu dari solois jazz wanita berdarah oriental yang sedang digandrungi generasi muda dewasa kini. Ya, aku memang mengidolakannya. Namun, bukan tentang dia artikel ini kutulis.

      Bagiku orang-orang yang ada di sekitarku saat ini, baik itu sahabat, teman, kolega, orang yang lebih tua yang kukenal, ataupun orang yang lebih muda, mereka sedang menjalani hidupnya masing-masing dalam jalur yang benar. Jalur yang mereka buat sendiri ataupun jalur yang memang telah tersedia bagi mereka untuk menjalani hidupnya. Jalur tersebut mencakup segala aspek kehidupan mereka mulai dari karir, pendidikan, finansial, hobi, persahabatan, bahkan asmara. Mereka telah berada di jalur yang menurut pemahamanku adalah tepat adanya. Namun, berbeda denganku. Aku merasa berada di jalur yang tidak tepat. Bahkan, mungkin aku tidak berada di jalur manapun. Entah mungkin aku yang salah karena kurang berjuang atau pun semesta yang belum menyediakan jalur itu untukku. Yang jelas, ketika aku berusaha mewujudkan apa yang menjadi impianku dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, selalu saja gagal. Bahkan, rintangan dan hambatan kian menghadang. Entah dimana letak salahnya sehingga semua itu tidak tercapai. Apakah aku adalah pribadi yang terlalu negatif? Apakah aku hamba yang kurang bersyukur? Apakah ini cara Tuhan untuk memberitahuku bahwa cara-cara yang kupilih belum tepat? Aku pun selalu bersimpuh pada-Nya untuk meminta petunjuk nyata tentang jalan mana yang harus kutempuh. Namun, mungkin karena ketidakpekaanku atas cara-Nya menyampaikan petunjuk tersebut sehingga aku kembali jatuh. Atau mungkin memang Dia belum memberikan pertanda-pertanda tersebut?

      Semesta seolah-olah menjauhi diriku. Semesta seolah-olah menghukumku dengan kesendirianku ini. Dalam kondisi seperti ini aku merasakan suatu hal. Jikalau aku berusaha memasuki kehidupan mereka yang sudah tepat berada pada jalur hidupnya, aku hanya akan mengusik hidup mereka. Aku merasa aku hanya benalu bagi hidup mereka. Aku akan menyebabkan hidup mereka melenceng ke jalur yang salah. Begitu pun ketika aku mencoba menarik mereka masuk ke dalam hidupku yang seperti ini. Hanya distraksi yang membawa kehancuran yang akan terjadi. Wajar bila mereka enggan bersinggungan denganku dan kehidupanku. Bahkan aku merasa, ketika aku menilai diriku begitu berarti bagi mereka sebagaimana mereka begitu berarti bagiku, ternyata itu semua salah. Di mata mereka aku tak ada artinya. Kalau pun ada, itu hanya sekedar nilai rendah yang tak begitu berpengaruh dalan hidup mereka. Jangankan terpikir untuk kembali hidup bersama orang yang sesungguhnya masih bersemayam di hati ini. Untuk menata hidup ini pun sungguh berat rasanya. Alangkah mustahilnya dengan segala kekacauan di hidupku saat ini dan bayang-bayang keburukanku di masa lalu dapat membuatnya kembali disini. Karena setelah kusadari, ia juga merupakan orang yang telah menemukan jalur hidup yang tepat. Jikalau dipaksakan kami bersama, maka distraksi akan kembali terjadi. Tapi lebih dari itu, kenyataanya memang bagi dirinya aku tak lebih dari tumpukan sampah yang berbau anyir. Dan pastinya sejengkal langkah pun, ia tak akan sudi mendekat ke arahku. Mungkin memang aku harus belajar tentang cara mencintai ala Sang Buddha. Tidak memetik bunga yang kita sukai hanya untuk melihat bunga itu mati di tangan kita. Mungkin aku akan membiarkan hidupnya terus berada di jalurnya kini, wahai edelweiss-ku.

     Teringat tentang perkataan seorang sahabatku di sebuah kedai kopi larut malam yang lalu. Mungkin ia-lah salah satu orang yang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Karena menurutnya, hidupnya pun sedang tidak berada di jalur yang tepat. Ia berkata, "Yang aku inginkan tiap hari ketika aku terbangun dari tidurku adalah aku ingin malam segera datang. Mengapa? Agar aku bisa tertidur kembali". Ya, mungkin tidur adalah salah satu karunia Tuhan yang patut kusyukuri saat ini. Karena hanya dengan cara itulah, segala pergumulan yang ada di benak ini terhenti sementara. Semua tanya yang tak kunjung menemukan jawabnya mendadak hilang. Segalanya seketika tergantikan oleh cerita singkat di dunia fana yang bernama mimpi.

      Ah, sudahlah. Mungkin memang benar bahwa aku adalah seorang penjelajah yang terjajah. Seorang anak manja yang mengaku dirinya pemberontak. Yang aku tahu, bahwa atas segala yang sedang kuhadapi saat ini, aku harus menghadapinya seorang diri.