Selasa, 11 Agustus 2020

Menggapai Rumah Impian dengan Belajar dari Masa Pandemi

 

Sumber foto : kiprah.pu.go.id



“Rumahku, istanaku”. Peribahasa tersebut mungkin pernah kita dengar dulu. Ya, sepertinya masih sering terngiang dalam ingatan kita. Namun, slogan-slogan yang berkaitan dengan rumah seperti “di rumah saja”, “stay at home”, “work from home”, hingga “learn from home” lebih sering terdengar di telinga kita belakangan. Segala aktivitas saat ini selalu dikaitkan dengan rumah sebagai representasi sebuah keamanan yang seolah dapat membentengi diri kita dari berbagai ancaman di luar.  Memiliki rumah sebagai tempat tinggal sepertinya memang selalu menjadi hal diimpikan kebanyakan dari kita. Terlebih ketika kita menghadapi situasi tidak terduga seperti belakangan ini yang mengharuskan untuk tetap berada di rumah. Alangkah indahnya membayangkan bilamana kita telah memiliki rumah sebagai tempat bernaung. Akan tetapi, bagi sebagian dari kita yang telah memiliki rumah sebagai tempat tinggal, untuk tetap berada di dalamnya seperti saat pandemi ini justru merupakan sebuah tantangan. Mengapa kontradiksi tersebut bisa terjadi? Adakah hal-hal yang terlupakan berkenaan dengan rumah itu sendiri?

Berada dalam suatu tempat yang sama untuk kurun waktu yang tidak sebentar, tentu saja memerlukan kenyamanan ekstra. Sebagai tempat tinggal, seringkali kita melupakan berbagai aspek yang seharusnya hadir di dalam rumah. Sebagian besar dari kita memang lebih banyak beraktivitas di kantor, kampus, sekolah, atau pun di tempat-tempat outdoor, sehingga tempat tinggal yang ada hanya dijadikan tempat untuk melepas lelah, bukan sebagai tempat utama untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Kini di masa seperti ini, semuanya telah berubah. Untuk merubah kebiasaan tersebut, tentunya memerlukan adaptasi sebagai bentuk kompromi menghadapi realita yang ada. Tentu itu bukanlah hal yang mudah.

Demi meminimalisir hal-hal negatif yang membuat kita merasa tidak nyaman untuk berada di rumah, maka beberapa hal perlu dilakukan. Salah satu hal utama yang perlu dillakukan adalah rekonstruksi ulang mindset kita mengenai hal yang kita sebut sebagai “rumah”. Rumah memang hanyalah salah satu jenis bangunan tempat tinggal. Akan tetapi, jauh lebih dari itu kita harus memaknai rumah sebagai tempat kita akan kembali dari mana pun kita pergi. Rumah juga dapat dimaknai sebagai benteng yang melindungi kita dari berbagai macam ancaman. Idealnya, rumah pun harus dimaknai sebagai tempat dimana kita paling merasa nyaman ketika kita berada di dalamnya. Ketika kita berhasil menanamkan makna rumah yang hakiki dalam diri kita, untuk tetap berada di dalam rumah dalam kurun waktu yang relatif lama, bukanlah sesuatu yang menakutkan untuk dilakukan.

Jika peribahasa “kebersihan adalah sebagian dari iman” pernah kita dengar, sebaiknya peribahasa tersebut dapat kita realisasikan di tempat tinggal kita. Bagaimana mungkin kita berupaya untuk tetap menjaga kesehatan dengan berada di dalam rumah, tetapi rumah yang kita tinggali tidak mengakomodir aspek kebersihan yang menjadi penopang utama bagi kesehatan? Ketika aspek kebersihan dipenuhi, rasa nyaman pun akan timbul beriringan. Di samping itu, untuk menghadirkan rasa nyaman ketika berada di rumah, perlu diperhatikan sisi keamanan dari rumah tersebut. Aspek keamanan harus dipenuhi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi. Sebagaimana benteng yang kokoh, tempat tinggal harus dapat berperan sebagai pelindung diri kita sebagai objek pokok yang ada di dalamnya bersamaan dengan unsur-unsur lain yang harus terlindungi dengan baik. Lebih jauh lagi, fungsi rumah sebagai tempat tinggal juga harus diimbangi dengan berbagai aspek penunjang agar kita dapat melakukan berbagai kegiatan atau aktivitas sehari-hari ketika berada di dalam rumah seperti melakukan pekerjaan, menimba ilmu, beribadah, hingga berolahraga.

Berkaca pada fenomena yang ada, apabila hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya dapat kita penuhi, rasanya untuk tetap berada di dalam rumah bukanlah sebuah hal yang begitu berat untuk dilakukan. Terlebih lagi apabila kita dapat membangun suasana yang harmonis dengan menghadirkan komunikasi dan hubungan yang baik antar pribadi yang menghuni rumah tersebut seperti orang tua, pasangan, hingga anak-anak kita. Dengan belajar dari kejadian-kejadian yang terjadi di masyarkat ketika pandemi, selagi kita merencanakan dan mengupayakan agar kita dapat memiliki rumah impian, sudah semsetinya kita dapat mempersiapkan rumah tersebut sebagai tempat terbaik bagi diri kita kelak. Hal tersebut dilakukan demi menghindari hal-hal negatif yang dapat terjadi kembali di kemudian hari. Dengan demikian, peribahasa “rumahku, istanaku” tidak hanya menjadi peribahasa belaka, namun secara nyata dapat diwujudkan ketika kita memiliki rumah sebagai tempat tinggal dan bernaung.

Dengan adanya pandemi yang telah terjadi, kita juga kembali belajar betapa pentingnya kepemilikan rumah bagi diri kita. Kita kembali memahami bahwa rumah sebagai tempat tinggal adalah kebutuhan pokok yang harus kita penuhi. Pemerintah Indonesia pun melalui Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah melakukan berbagai upaya agar masyarakat dapat memiliki rumah impian. Program Satu Juta Rumah, Program Pembangunan Berbasis Komunitas, hingga Program Subsidi Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dengan menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dihadirkan demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari sisi internal pribadi masing-masing, kita wajib mengupayakan agar impian untuk memiliki rumah dapat terwujud. Akan tetapi sebagai warga negara yang baik, upaya yang kita lakukan harus bersinergi dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah demi terciptanya harmonisasi antara kebutuhan pribadi diri kita dan kehidupan bersama.

Rabu, 22 Januari 2020

Tidak Semua Yang Layak Menang, Akan Menjadi Pemenang.

“Jika engkau memang layak menjadi pemenang, namun engkau tak kunjung menang, kembalilah ke habitat dimana engkau berasal, wahai anjing kecilku! Menggonggonglah sekeras yang kau bisa!
Walaupun pekiknya suaramu tak dapat membangunkan siapapun dari tidurnya.
Meskipun kau bukanlah sang pemenang, setidaknya aku akan menjulukimu sebagai sang petarung”


    Tidak semua yang layak menang akan menjadi pemenang. Idealnya memang segala kemampuan dan kapasitas yang kita miliki, menentukan posisi kita dalam sebuah pertandingan. Apakah kita akan menjadi pemenang? Ataukah menjadi dia yang kalah dalam pertandingan tersebut? Tetapi pada kenyataannya, segala kelebihan yang kita miliki bukanlah parameter yang menentukan bahwa kita akan menjadi pemenang. Bahkan, faktor kerja keras dan perjuangan pun tidak menjadi jaminan bahwa kita akan semakin berpeluang untuk menjadi pemenang.
      Seringkali keberuntungan yang datang dari takdir Sang Maha Esa adalah faktor terpenting untuk kita dapat memenangkan sebuah pertandingan. Ya, setidaknya itu yang aku tahu. Di samping banyaknya faktor-faktor lain buatan manusia yang digunakan sebagai faktor penentu kemenangan. Faktor-faktor yang aku enggan untuk mengetahuinya.
     Akhir kata, ketika kita merasa bahwa diri kita layak untuk menjadi pemenang karena segala kemampuan, kapasitas, kelebihan, pengalaman yang kita miliki, serta kerja keras dan perjuangan yang telah kita lewati, itu semua tidaklah cukup untuk menjadikan kita sebagai seorang pemenang. Setidaknya dalam kehidupan ini.

Jumat, 10 Mei 2019

"Memang Kamu Siapa?"



      Selayaknya manusia pada umumnya, pengakuan atas eksistensi diri kita adalah salah satu kebutuhan hidup. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Abraham Mashlow dalam teorinya, "The Hierarchy of Needs". Merasa berarti, dihargai, dan dibutuhkan oleh orang lain, terlebih dari orang-orang yang kita anggap memiliki value lebih dalam hidup kita adalah hal yang hakiki untuk didapatkan.
          Seringkali kita merasa bahwa keberadaan diri kita menjadi hal yang penting bagi hidup orang lain. Apa yang telah kita lakukan untuk mereka, sejatinya dapat menjadi poin penting bagi mereka untuk mentasbihkan bahwa keberadaan diri kita begitu berarti dalam kehidupannya. Perhatian yang kita terima adalah suatu bentuk lain dari penghargaan atas keberadaan diri kita di kehidupan ini. Bukan berarti pamrih. Namun, memang secara naluriah, manusia membutuhkan hal tersebut. Bukan berarti pula tanpa ketulusan. Hanya sedikit ucapan terima kasih yang dirupakan dalam bentuk tindakan nyata.
         Namun, kenyataan seringkali berkata lain. Orang-orang yang kita pikir menghargai keberadaan kita dalam hidupnya atau menganggap diri kita begitu berarti dalam kehidupannya, justru berperilaku kebalikan. Pada kenyataannya, kita tidak begitu berarti dalam hidup mereka. Ekspektasi tinggi dari diri kita, membuahkan kekecewaan. Terlebih lagi ketika kita tersadarkan akan sebuah pertanyaan, “memang kamu siapa?” Ya, memang kita siapa? Berharap diri kita begitu berarti dalam kehidupan orang lain? Pertanyaan tersebut diperkuat oleh parameter-parameter keduniawian yang semakin membuat diri kita bertanya-tanya. Mungkin saja, kita hanya seorang pemalas yang tidak dapat menyelesaikan tanggung jawab hidupnya dengan baik. Mungkin saja, kita hanya seorang bodoh yang tidak tahu mau dibawa kemana arah hidup kita. Mungkin saja, kita hanya seorang pengangguran yang tak berpenghasilan, seorang yang gagal menyelesaikan pendidikannya, seorang anak manja yang terus menerus hidup bertopang hidup pada keluarga, seorang pemimpi yang menggunakan mimpinya untuk berlindung dibalik kelemahannya, dan lain sebagainya.
      Pada akhirnya, secara pribadi diriku tersadar. “Memang kamu siapa?”, sehingga berharap begitu banyak dari diri orang lain di sekitarmu? Mungkin benar adanya, sebuah rangkaian kalimat yang berbunyi “aku bukan siapa-siapa”. Ya, di mata mereka dan dirinya, ternyata itulah diriku yang sebenarnya.


Cinta dan kasih sayang adalah premis-premis lain yang tidak dapat menghasilkan kesimpulan bahwa seseorang akan menjadi begitu berarti di mata orang yang dicintainya.




Selasa, 14 November 2017

Tentang Sebuah Kebenaran : Kekuatan, Kejujuran, dan Bahasa Air Mata

      Agaknya kita seringkali terlena dengan dogma bahwa tangisan adalah lambang dari kelemahan. Apalagi ketika dikaitkan dengan jenis kelamin pria yang lekat dengan stereotype "Boys don't cry". Ya, sebuah lagu berjudul demikian menggema di telinga kita ketika dilantunkan oleh Robert Smith dari The Cure periode 1980-an. Namun, apa sesungguhnya kebenaran yang nyata di balik itu semua? Saya pribadi memiliki pandangan yang lain. 
      Tangisan adalah bentuk luapan otentik atas emosi atau ekspresi dari akumulasi perasaan yang tersimpan dalam sanubari kita sebagai manusia yang akhirnya tak terbendung lagi. Dalam konteks ini, saya menyebutnya dengan "bahasa air mata". Jika dikaitkan dengan kekuatan, justru sangat relevan korelasinya. Mengapa? Bukankah pribadi yang kuat adalah pribadi yang tidak mudah menitihkan air mata? Oh, tunggu dulu. Sepertinya pemikiran konservatif macam itu harus dihapus dari diri kita. Mungkin, bagi mereka yang berpura-pura terlihat kuat sehingga sedemikian rupa menahan tetesan air mata untuk tidak jatuh di wajahnya, pemikiran tersebut memang benar adanya. Namun, untuk insan-insan yang memang betul-betul berkepribadian kuat, untuk apa berpura-pura kuat seperti itu? Toh, dengan membiarkan tumpahnya air mata di wajah mereka tak membuat mereka terlihat lemah. Mereka justru mampu berhadapan dengan realita yang ada. Mereka mampu menghadapi emosinya sendiri. Mereka tidak terpengaruh atas pandangan orang lain. Jadi pertanyaanya, apakah kita bagian dari orang-orang yang betul-betul berkepribadian kuat atau hanya berpura-pura kuat?

      
      Di samping itu, jika dikaitkan bahasa air mata dengan kejujuran, maka hubungan yang erat bisa kita lihat secara jelas. Orang-orang yang jujur kepada diri mereka sendiri atas apa yang mereka rasakan, baik sedih, terharu, bahagia, terkejut, kesal, dan perasaan-perasaan lain yang pada akhirnya dapat mengakibatkan pecahnya sebuah tangisan adalah orang yang memiliki kejujuran yang tinggi. Mengapa? Karena sekali lagi saya tekankan bahwa mereka jujur pada diri mereka sendiri. Sedangkan orang-orang yang berusaha menyembunyikan perasaannya kepada khalayak dan bahkan kepada diri mereka sendiri adalah orang-orang yang patut dipertanyakan kejujurannya. Jangankan untuk berlaku jujur pada orang lain, toh pada dirinya sendiri pun mereka gemar berdusta. Bukankah hati yang lembut adalah hati yang peka pada perasaan yang dimilikinya? Bukankah dengan kita merasakan semua perasaan yang ada membuat hati kita menjadi terasah dan lebih peka akan kondisi yang ada? Menurut psikolog John Bradshaw dalam bukunya yang berjudul "Home Coming", bahwa kita perlu terisak menangis agar semua perasaan yang ada dalam diri kita dapat kita rasakan dengan sungguh-sungguh sehingga kita betul-betul tersadar apa yang terjadi dalam hidup kita. Dengan demikian, bukankah akan menjadi lebih mudah untuk menentukan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan dalam mengarungi kehidupan kita selanjutnya?
      Lalu, bagaimana sesungguhnya pribadi dengan kekuatan dan kejujuran bisa terwujud tanpa mengesampingkan hadirnya bahasa air mata dalam kehidupan yang ada? Pribadi yang kuat adalah pribadi yang jujur atas apa yang ia alami. Ia boleh saja terlihat berduka di hadapan orang lain. Namun, tanpa kepura-puraannya atas embel-embel kekuatan tadi, ia tetap dapat melakukan apa yang orang lain bisa lakukan walaupun kondisinya berbeda dengan kondisi yang sedang ia alami. Mungkin seseorang bisa terlihat sedang berduka dikarenakan permasalahan pribadi yang sedang ia alami, itu bukan masalah. Asalkan ia tetap bisa beraktivitas, melaksanakan kewajibannya, memberikan kontribusinya selayaknya orang yang sedang berbahagia pada saat yang bersamaan. Dan berhentilah terus menghakimi orang-orang yang sedang berada dalam kondisi tersebut dengan menyepelakannya dan menjadikan orang-orang tersebut sebagai bahan tertawaan. Sebaliknya, kita wajib bersama-sama merangkul demi menolong orang-orang yang sedang dalam kondisi sulit tersebut. Karena bisa jadi suatu hari giliran kita yang berada dalam kondisi yang sedang dialami orang tersebut.
      Jadi, berhentilah berbohong pada diri sendiri dan orang lan. Berhentilah berpura-pura menjadi kuat. Karena sesungguhnya kekuatan yang paling kuat adalah ketika kita mampu menjaga kejujuran kita tanpa embel-embel apapun.

Selasa, 26 September 2017

Distraksi

   

"Learn to fight all battles alone"  
     
    Bukan. Tulisan ini bukan tentang sebuah lagu dari solois jazz wanita berdarah oriental yang sedang digandrungi generasi muda dewasa kini. Ya, aku memang mengidolakannya. Namun, bukan tentang dia artikel ini kutulis.
      Bagiku orang-orang yang ada di sekitarku saat ini, baik itu sahabat, teman, kolega, orang yang lebih tua yang kukenal, ataupun orang yang lebih muda, mereka sedang menjalani hidupnya masing-masing dalam jalur yang benar. Jalur yang mereka buat sendiri ataupun jalur yang memang telah tersedia bagi mereka untuk menjalani hidupnya. Jalur tersebut mencakup segala aspek kehidupan mereka mulai dari karir, pendidikan, finansial, hobi, persahabatan, bahkan asmara. Mereka telah berada di jalur yang menurut pemahamanku adalah tepat adanya. Namun, berbeda denganku. Aku merasa berada di jalur yang tidak tepat. Bahkan, mungkin aku tidak berada di jalur manapun. Entah mungkin aku yang salah karena kurang berjuang atau pun semesta yang belum menyediakan jalur itu untukku. Yang jelas, ketika aku berusaha mewujudkan apa yang menjadi impianku dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, selalu saja gagal. Bahkan, rintangan dan hambatan kian menghadang. Entah dimana letak salahnya sehingga semua itu tidak tercapai. Apakah aku adalah pribadi yang terlalu negatif? Apakah aku hamba yang kurang bersyukur? Apakah ini cara Tuhan untuk memberitahuku bahwa cara-cara yang kupilih belum tepat? Aku pun selalu bersimpuh pada-Nya untuk meminta petunjuk nyata tentang jalan mana yang harus kutempuh. Namun, mungkin karena ketidakpekaanku atas cara-Nya menyampaikan petunjuk tersebut sehingga aku kembali jatuh. Atau mungkin memang Dia belum memberikan pertanda-pertanda tersebut?
      Semesta seolah-olah menjauhi diriku. Semesta seolah-olah menghukumku dengan kesendirianku ini. Dalam kondisi seperti ini aku merasakan suatu hal. Jikalau aku berusaha memasuki kehidupan mereka yang sudah tepat berada pada jalur hidupnya, aku hanya akan mengusik hidup mereka. Aku merasa aku hanya benalu bagi hidup mereka. Aku akan menyebabkan hidup mereka melenceng ke jalur yang salah. Begitu pun ketika aku mencoba menarik mereka masuk ke dalam hidupku yang seperti ini. Hanya distraksi yang membawa kehancuran yang akan terjadi. Wajar bila mereka enggan bersinggungan denganku dan kehidupanku. Bahkan aku merasa, ketika aku menilai diriku begitu berarti bagi mereka sebagaimana mereka begitu berarti bagiku, ternyata itu semua salah. Di mata mereka aku tak ada artinya. Kalau pun ada, itu hanya sekedar nilai rendah yang tak begitu berpengaruh dalan hidup mereka. Jangankan terpikir untuk kembali hidup bersama orang yang sesungguhnya masih bersemayam di hati ini. Untuk menata hidup ini pun sungguh berat rasanya. Alangkah mustahilnya dengan segala kekacauan di hidupku saat ini dan bayang-bayang keburukanku di masa lalu dapat membuatnya kembali disini. Karena setelah kusadari, ia juga merupakan orang yang telah menemukan jalur hidup yang tepat. Jikalau dipaksakan kami bersama, maka distraksi akan kembali terjadi. Tapi lebih dari itu, kenyataanya memang bagi dirinya aku tak lebih dari tumpukan sampah yang berbau anyir. Dan pastinya sejengkal langkah pun, ia tak akan sudi mendekat ke arahku. Mungkin memang aku harus belajar tentang cara mencintai ala Sang Buddha. Tidak memetik bunga yang kita sukai hanya untuk melihat bunga itu mati di tangan kita. Mungkin aku akan membiarkan hidupnya terus berada di jalurnya kini, wahai edelweiss-ku.
     Teringat tentang perkataan seorang sahabatku di sebuah kedai kopi larut malam yang lalu. Mungkin ia-lah salah satu orang yang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Karena menurutnya, hidupnya pun sedang tidak berada di jalur yang tepat. Ia berkata, "Yang aku inginkan tiap hari ketika aku terbangun dari tidurku adalah aku ingin malam segera datang. Mengapa? Agar aku bisa tertidur kembali". Ya, mungkin tidur adalah salah satu karunia Tuhan yang patut kusyukuri saat ini. Karena hanya dengan cara itulah, segala pergumulan yang ada di benak ini terhenti sementara. Semua tanya yang tak kunjung menemukan jawabnya mendadak hilang. Segalanya seketika tergantikan oleh cerita singkat di dunia fana yang bernama mimpi.
      Ah, sudahlah. Mungkin memang benar bahwa aku adalah seorang penjelajah yang terjajah. Seorang anak manja yang mengaku dirinya pemberontak. Yang aku tahu, bahwa atas segala yang sedang kuhadapi saat ini, aku harus menghadapinya seorang diri. 

Minggu, 06 Agustus 2017

Elegi Si Pengumpul Barang Bekas dan Satir Tentang Barang Dagangan



"What happened to the good old fashioned romance?"
"I thought it doesn't exist anymore. Nowadays"

            
         Ya, aku pikir yang namanya kesejatian itu memang tak ada lagi. Setidaknya dewasa ini. Yang ada saat ini hanyalah "barang dagangan". Barang yang ketika sudah tak ada lagi nilai gunanya, akan dibuang dan digantikan oleh barang baru yang masih memiliki nilai guna. Atau setidaknya barang yang memang belum pernah kita miliki dan gunakan. Pun ketika nilai guna barang tersebut belum habis, kita akan mencari barang lain yang sekiranya memiliki nilai guna yang masih lebih besar daripada yang telah kita gunakan. Mungkin kita bisa mencarinya di supermarket, pasar tradisional, toko-toko yang ada di dunia maya, ataupun di tempat-tempat yang tak terduga lainnya. Begitu sekiranya siklus tersebut berulang-ulang kali terus terjadi.
         Bukan, aku bukan orang yang demikian. Aku tak pernah berpikir bahwa nilai dari suatu barang tersebut akan habis. Bahkan aku sama sekali tak menanggapnya seperti barang yang akan habis nilai gunanya. Bagiku, semakin lama aku menggunakan barang tersebut, nilai dari barang itu malah makin bertambah dan bertambah. Dan tak pernah terpikir sedikit pun olehku untuk menukar barang itu dengan barang yang baru.
          Mungkin aku bukanlah pengguna barang yang baik. Yang lembut dalam menggunakannya. Yang merawatnya dengan baik sesuai petunjuk penggunaan barang tersebut. Tapi bagiku, barang yang sudah kumiliki itu akan tetap ada nilainya walau berapa lamapun telah kumiliki barang itu. Setidaknya, aku mencoba dengan sangat keras untuk menjaga barang tersebut tetap elok dan kutaruh barang itu di tempat terbaik yang kumiliki.
             Ini bukan tentang cerita dari negeri dongeng ataupun cerita tentang putri cantik yang menemukan cinta sejatinya dari seorang pangeran tampan nan gagah berkuda. Ini cuma sebuah celotehan belaka dari seorang yang mereka bilang lemah, cengeng, melankolis, dramatis, dan berbagai kata lain yang mendeskripsikan hal-hal buruk yang keluar dari mulut mereka yang ternyata baru kupahami bahwasanya mereka adalah orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di tempat-tempat dimana "barang dagangan" tersebut diperjual-belikan. 
         Selamat berdagang. Semoga meraup untung sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa, bahwa jauh disana ada tempat yang kalian pikir adalah tempat sampah, tempat yang mungkin enggan kalian kunjungi, tempat dimana barang-barang bekas tersebut bisa didaur ulang dan digunakan kembali menjadi sesuatu yang lebih baik. Tempat dimana aku (si pengumpul barang bekas) bersemayam. Om svaha.

Jumat, 04 Agustus 2017

Dunia Kedua

        Akhir-akhir ini aku senang sekali membaca penelitian-penelitian yang berhubungan dengan dunia antariksa, terutama perihal pencarian-pencarian tempat tinggal baru bagi umat manusia menggantikan planet bumi ini. Andaikan suatu saat para astronot dan astronom dapat menemukan sebuah tempat yang ternyata bisa dijadikan tempat tinggal manusia selain bumi ini, tentunya mereka membutuhkan sekumpulan orang-orang yang akan dijadikan percobaan pertama sebagai populasi baru untuk dapat hidup di tempat yang baru tersebut. Dan jika aku diberi kesempatan, aku ingin sekali menjadi salah satu dari orang-orang yang dikirim ke tempat tinggal baru tersebut. Mengapa? Bukan berarti aku tidak mencintai bumi ini. Bumi ini sangatlah indah. Mungkin, bumi adalah tempat terbaik yang diciptakan Tuhan sebagai tempat tinggal kita para makhluk ciptaan-Nya. Namun, ada hal lain yang membuatku tergugah sehingga terpikir untuk meninggalkan bumi ini.
        Menurutku segala yang ada di bumi atau dunia ini sudah sangat kompleks. Sudah tidak ada lagi kesederhanaan yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Terlalu banyak pilihan-pilihan yang seringkali membuat manusia menjadi tidak bijak dan cenderung egois menjalani kehidupan ini. Perselisihan, permusuhan, dan pertengkaran yang bersumber dari perbedaan sudah menjadi hal yang sangat lumrah di dunia ini. Kita sebagai manusia sudah sangat enggan untuk berkompromi, bertoleransi, dan melakukan usaha lebih untuk menerima perbedaan itu sebagai suatu hal yang mau tak mau harus kita terima. Mengapa demikian? Karena kita diberi begitu banyak pilihan yang mengedepankan kesamaan dan membuat kita seolah-olah mengambil kesimpulan bahwa perbedaan adalah hal yang sangat harus dihindari. Perbedaan agama, warna kulit, jenis kelamin, suku, kewarganegaraan, ideologi, pemikiran, hingga kepribadian kerap kali menjadi sumber perpecahan di belahan manapun di dunia ini. Itu semua terjadi karena kita merasa bahwasanya kita tidak perlu menerima semua perbedaan itu dengan lapang dada. Toh, masih banyak orang-orang, kaum, golongan, atau kelompok lain yang memiliki banyak kesamaan dengan diri kita. Jangankan untuk berusaha bertoleransi dan berkompromi, untuk menerima perbedaan itupun kita sudah enggan.

        
        Kita ambil analogi. Andai kata di Kota Jakarta hanya ada 3 manusia yang hidup disana. Kita sebut mereka dengan inisial A, B, dan C. Mereka bertiga bersahabat. Namun, pada suatu saat karena berbagai perbedaan yang ada membuat A bersitegang dengan B, sedangkan B dan C masih tetap bersahabat. Karena keadaan tersebut A menjauhi B. Dengan demikian, secara otomatis A pun tidak dapat bersahabat lagi dengan C yang masih sangat dekat dengan B, dan memiliki sekian banyak kesamaan. Akhirnya A pun memutuskan untuk hidup seorang diri di kota tersebut. Namun, apakah bisa A hidup seorang diri dan mengkhianati kodratnya yaitu sebagai seorang manusia yang notabene adalah makhluk sosial? Jawabannya sudah pasti tidak akan bisa. Akhirnya karena ketidakmampuannya tersebut, A pun menurunkan egonya dan mulai berkompromi serta bertoleransi dengan B juga C. Ia akan berusaha untuk melupakan masalah yang terjadi, memaafkan, dan kembali menjalin hubungan baik dengan kedua orang tersebut. Karena jika ia tidak melakukan hal itu, tidak ada pilihan lain untuk A menjalin hubungan dengan manusia lain di Kota Jakarta itu. Namun, jikalau disana terdapat 1 orang lagi (sebut saja D) yang tidak mengenal B dan C, ia pasti akan berpikir ulang untuk menjalani hubungan kembali dengan B dan C, lalu memilih untuk mulai membina hubungan baru dengan D.
        Sekali lagi aku katakan bahwa seringkali dengan adanya begitu banyak pilihan, manusia menjadi kurang bijak dan meninggikan ego mereka dengan asumsi masih banyak pilihan-pilihan lain atau manusia-manusia lain yang mau "menerima" mereka tanpa mereka mencoba "menerima". Adanya banyak pilihan memang dapat membawa berbagai hal positif dalam hidup kita. Namun, sadarkah bahwa kita telah melupakan hal-hal negatif yang menguntai dari tersedianya begitu banyak pilihan yang ada. Ya, begitulah realita yang ada dewasa ini. Apa mau dikata? Memang sudah begitu adanya. Tinggal kita melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita adalah manusia yang terlarut oleh realita yang ada? Atau kita adalah manusia yang selalu berusaha menjadikan realita sebagai sesuatu yang bisa diwujudkan? Tentunya realita yang ideal adalah realita yang baik dan indah. Mungkin memang ada baiknya jika "dunia kedua" itu nyata adanya di kehidupan ini. Dan membuat manusia menyadari bahwa hubungan yang baik dan intim antar satu manusia dengan manusia lain adalah sebuah hal sederhana yang tak ternilai harganya. Amin. 
.