Selasa, 26 September 2017

Distraksi

   

"Learn to fight all battles alone"  
     
    Bukan. Tulisan ini bukan tentang sebuah lagu dari solois jazz wanita berdarah oriental yang sedang digandrungi generasi muda dewasa kini. Ya, aku memang mengidolakannya. Namun, bukan tentang dia artikel ini kutulis.
      Bagiku orang-orang yang ada di sekitarku saat ini, baik itu sahabat, teman, kolega, orang yang lebih tua yang kukenal, ataupun orang yang lebih muda, mereka sedang menjalani hidupnya masing-masing dalam jalur yang benar. Jalur yang mereka buat sendiri ataupun jalur yang memang telah tersedia bagi mereka untuk menjalani hidupnya. Jalur tersebut mencakup segala aspek kehidupan mereka mulai dari karir, pendidikan, finansial, hobi, persahabatan, bahkan asmara. Mereka telah berada di jalur yang menurut pemahamanku adalah tepat adanya. Namun, berbeda denganku. Aku merasa berada di jalur yang tidak tepat. Bahkan, mungkin aku tidak berada di jalur manapun. Entah mungkin aku yang salah karena kurang berjuang atau pun semesta yang belum menyediakan jalur itu untukku. Yang jelas, ketika aku berusaha mewujudkan apa yang menjadi impianku dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, selalu saja gagal. Bahkan, rintangan dan hambatan kian menghadang. Entah dimana letak salahnya sehingga semua itu tidak tercapai. Apakah aku adalah pribadi yang terlalu negatif? Apakah aku hamba yang kurang bersyukur? Apakah ini cara Tuhan untuk memberitahuku bahwa cara-cara yang kupilih belum tepat? Aku pun selalu bersimpuh pada-Nya untuk meminta petunjuk nyata tentang jalan mana yang harus kutempuh. Namun, mungkin karena ketidakpekaanku atas cara-Nya menyampaikan petunjuk tersebut sehingga aku kembali jatuh. Atau mungkin memang Dia belum memberikan pertanda-pertanda tersebut?
      Semesta seolah-olah menjauhi diriku. Semesta seolah-olah menghukumku dengan kesendirianku ini. Dalam kondisi seperti ini aku merasakan suatu hal. Jikalau aku berusaha memasuki kehidupan mereka yang sudah tepat berada pada jalur hidupnya, aku hanya akan mengusik hidup mereka. Aku merasa aku hanya benalu bagi hidup mereka. Aku akan menyebabkan hidup mereka melenceng ke jalur yang salah. Begitu pun ketika aku mencoba menarik mereka masuk ke dalam hidupku yang seperti ini. Hanya distraksi yang membawa kehancuran yang akan terjadi. Wajar bila mereka enggan bersinggungan denganku dan kehidupanku. Bahkan aku merasa, ketika aku menilai diriku begitu berarti bagi mereka sebagaimana mereka begitu berarti bagiku, ternyata itu semua salah. Di mata mereka aku tak ada artinya. Kalau pun ada, itu hanya sekedar nilai rendah yang tak begitu berpengaruh dalan hidup mereka. Jangankan terpikir untuk kembali hidup bersama orang yang sesungguhnya masih bersemayam di hati ini. Untuk menata hidup ini pun sungguh berat rasanya. Alangkah mustahilnya dengan segala kekacauan di hidupku saat ini dan bayang-bayang keburukanku di masa lalu dapat membuatnya kembali disini. Karena setelah kusadari, ia juga merupakan orang yang telah menemukan jalur hidup yang tepat. Jikalau dipaksakan kami bersama, maka distraksi akan kembali terjadi. Tapi lebih dari itu, kenyataanya memang bagi dirinya aku tak lebih dari tumpukan sampah yang berbau anyir. Dan pastinya sejengkal langkah pun, ia tak akan sudi mendekat ke arahku. Mungkin memang aku harus belajar tentang cara mencintai ala Sang Buddha. Tidak memetik bunga yang kita sukai hanya untuk melihat bunga itu mati di tangan kita. Mungkin aku akan membiarkan hidupnya terus berada di jalurnya kini, wahai edelweiss-ku.
     Teringat tentang perkataan seorang sahabatku di sebuah kedai kopi larut malam yang lalu. Mungkin ia-lah salah satu orang yang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Karena menurutnya, hidupnya pun sedang tidak berada di jalur yang tepat. Ia berkata, "Yang aku inginkan tiap hari ketika aku terbangun dari tidurku adalah aku ingin malam segera datang. Mengapa? Agar aku bisa tertidur kembali". Ya, mungkin tidur adalah salah satu karunia Tuhan yang patut kusyukuri saat ini. Karena hanya dengan cara itulah, segala pergumulan yang ada di benak ini terhenti sementara. Semua tanya yang tak kunjung menemukan jawabnya mendadak hilang. Segalanya seketika tergantikan oleh cerita singkat di dunia fana yang bernama mimpi.
      Ah, sudahlah. Mungkin memang benar bahwa aku adalah seorang penjelajah yang terjajah. Seorang anak manja yang mengaku dirinya pemberontak. Yang aku tahu, bahwa atas segala yang sedang kuhadapi saat ini, aku harus menghadapinya seorang diri. 

Minggu, 06 Agustus 2017

Elegi Si Pengumpul Barang Bekas dan Satir Tentang Barang Dagangan



"What happened to the good old fashioned romance?"
"I thought it doesn't exist anymore. Nowadays"

            
         Ya, aku pikir yang namanya kesejatian itu memang tak ada lagi. Setidaknya dewasa ini. Yang ada saat ini hanyalah "barang dagangan". Barang yang ketika sudah tak ada lagi nilai gunanya, akan dibuang dan digantikan oleh barang baru yang masih memiliki nilai guna. Atau setidaknya barang yang memang belum pernah kita miliki dan gunakan. Pun ketika nilai guna barang tersebut belum habis, kita akan mencari barang lain yang sekiranya memiliki nilai guna yang masih lebih besar daripada yang telah kita gunakan. Mungkin kita bisa mencarinya di supermarket, pasar tradisional, toko-toko yang ada di dunia maya, ataupun di tempat-tempat yang tak terduga lainnya. Begitu sekiranya siklus tersebut berulang-ulang kali terus terjadi.
         Bukan, aku bukan orang yang demikian. Aku tak pernah berpikir bahwa nilai dari suatu barang tersebut akan habis. Bahkan aku sama sekali tak menanggapnya seperti barang yang akan habis nilai gunanya. Bagiku, semakin lama aku menggunakan barang tersebut, nilai dari barang itu malah makin bertambah dan bertambah. Dan tak pernah terpikir sedikit pun olehku untuk menukar barang itu dengan barang yang baru.
          Mungkin aku bukanlah pengguna barang yang baik. Yang lembut dalam menggunakannya. Yang merawatnya dengan baik sesuai petunjuk penggunaan barang tersebut. Tapi bagiku, barang yang sudah kumiliki itu akan tetap ada nilainya walau berapa lamapun telah kumiliki barang itu. Setidaknya, aku mencoba dengan sangat keras untuk menjaga barang tersebut tetap elok dan kutaruh barang itu di tempat terbaik yang kumiliki.
             Ini bukan tentang cerita dari negeri dongeng ataupun cerita tentang putri cantik yang menemukan cinta sejatinya dari seorang pangeran tampan nan gagah berkuda. Ini cuma sebuah celotehan belaka dari seorang yang mereka bilang lemah, cengeng, melankolis, dramatis, dan berbagai kata lain yang mendeskripsikan hal-hal buruk yang keluar dari mulut mereka yang ternyata baru kupahami bahwasanya mereka adalah orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di tempat-tempat dimana "barang dagangan" tersebut diperjual-belikan. 
         Selamat berdagang. Semoga meraup untung sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa, bahwa jauh disana ada tempat yang kalian pikir adalah tempat sampah, tempat yang mungkin enggan kalian kunjungi, tempat dimana barang-barang bekas tersebut bisa didaur ulang dan digunakan kembali menjadi sesuatu yang lebih baik. Tempat dimana aku (si pengumpul barang bekas) bersemayam. Om svaha.

Jumat, 04 Agustus 2017

Dunia Kedua

        Akhir-akhir ini aku senang sekali membaca penelitian-penelitian yang berhubungan dengan dunia antariksa, terutama perihal pencarian-pencarian tempat tinggal baru bagi umat manusia menggantikan planet bumi ini. Andaikan suatu saat para astronot dan astronom dapat menemukan sebuah tempat yang ternyata bisa dijadikan tempat tinggal manusia selain bumi ini, tentunya mereka membutuhkan sekumpulan orang-orang yang akan dijadikan percobaan pertama sebagai populasi baru untuk dapat hidup di tempat yang baru tersebut. Dan jika aku diberi kesempatan, aku ingin sekali menjadi salah satu dari orang-orang yang dikirim ke tempat tinggal baru tersebut. Mengapa? Bukan berarti aku tidak mencintai bumi ini. Bumi ini sangatlah indah. Mungkin, bumi adalah tempat terbaik yang diciptakan Tuhan sebagai tempat tinggal kita para makhluk ciptaan-Nya. Namun, ada hal lain yang membuatku tergugah sehingga terpikir untuk meninggalkan bumi ini.
        Menurutku segala yang ada di bumi atau dunia ini sudah sangat kompleks. Sudah tidak ada lagi kesederhanaan yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Terlalu banyak pilihan-pilihan yang seringkali membuat manusia menjadi tidak bijak dan cenderung egois menjalani kehidupan ini. Perselisihan, permusuhan, dan pertengkaran yang bersumber dari perbedaan sudah menjadi hal yang sangat lumrah di dunia ini. Kita sebagai manusia sudah sangat enggan untuk berkompromi, bertoleransi, dan melakukan usaha lebih untuk menerima perbedaan itu sebagai suatu hal yang mau tak mau harus kita terima. Mengapa demikian? Karena kita diberi begitu banyak pilihan yang mengedepankan kesamaan dan membuat kita seolah-olah mengambil kesimpulan bahwa perbedaan adalah hal yang sangat harus dihindari. Perbedaan agama, warna kulit, jenis kelamin, suku, kewarganegaraan, ideologi, pemikiran, hingga kepribadian kerap kali menjadi sumber perpecahan di belahan manapun di dunia ini. Itu semua terjadi karena kita merasa bahwasanya kita tidak perlu menerima semua perbedaan itu dengan lapang dada. Toh, masih banyak orang-orang, kaum, golongan, atau kelompok lain yang memiliki banyak kesamaan dengan diri kita. Jangankan untuk berusaha bertoleransi dan berkompromi, untuk menerima perbedaan itupun kita sudah enggan.

        
        Kita ambil analogi. Andai kata di Kota Jakarta hanya ada 3 manusia yang hidup disana. Kita sebut mereka dengan inisial A, B, dan C. Mereka bertiga bersahabat. Namun, pada suatu saat karena berbagai perbedaan yang ada membuat A bersitegang dengan B, sedangkan B dan C masih tetap bersahabat. Karena keadaan tersebut A menjauhi B. Dengan demikian, secara otomatis A pun tidak dapat bersahabat lagi dengan C yang masih sangat dekat dengan B, dan memiliki sekian banyak kesamaan. Akhirnya A pun memutuskan untuk hidup seorang diri di kota tersebut. Namun, apakah bisa A hidup seorang diri dan mengkhianati kodratnya yaitu sebagai seorang manusia yang notabene adalah makhluk sosial? Jawabannya sudah pasti tidak akan bisa. Akhirnya karena ketidakmampuannya tersebut, A pun menurunkan egonya dan mulai berkompromi serta bertoleransi dengan B juga C. Ia akan berusaha untuk melupakan masalah yang terjadi, memaafkan, dan kembali menjalin hubungan baik dengan kedua orang tersebut. Karena jika ia tidak melakukan hal itu, tidak ada pilihan lain untuk A menjalin hubungan dengan manusia lain di Kota Jakarta itu. Namun, jikalau disana terdapat 1 orang lagi (sebut saja D) yang tidak mengenal B dan C, ia pasti akan berpikir ulang untuk menjalani hubungan kembali dengan B dan C, lalu memilih untuk mulai membina hubungan baru dengan D.
        Sekali lagi aku katakan bahwa seringkali dengan adanya begitu banyak pilihan, manusia menjadi kurang bijak dan meninggikan ego mereka dengan asumsi masih banyak pilihan-pilihan lain atau manusia-manusia lain yang mau "menerima" mereka tanpa mereka mencoba "menerima". Adanya banyak pilihan memang dapat membawa berbagai hal positif dalam hidup kita. Namun, sadarkah bahwa kita telah melupakan hal-hal negatif yang menguntai dari tersedianya begitu banyak pilihan yang ada. Ya, begitulah realita yang ada dewasa ini. Apa mau dikata? Memang sudah begitu adanya. Tinggal kita melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita adalah manusia yang terlarut oleh realita yang ada? Atau kita adalah manusia yang selalu berusaha menjadikan realita sebagai sesuatu yang bisa diwujudkan? Tentunya realita yang ideal adalah realita yang baik dan indah. Mungkin memang ada baiknya jika "dunia kedua" itu nyata adanya di kehidupan ini. Dan membuat manusia menyadari bahwa hubungan yang baik dan intim antar satu manusia dengan manusia lain adalah sebuah hal sederhana yang tak ternilai harganya. Amin. 
.

Senin, 01 Mei 2017

Perubahan dan Tiga Golongan Manusia

                            "Knowing yourself is the beginning of all wisdoms" -Aristotle

    Perubahan. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak dapat berubah. Perubahan kita perlukan sebagai salah satu upaya perbaikan diri dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai seorang individu serta hubungannya dengan lingkungan sekitar. Namun, sadarkah kita bahwa tidak semua individu mampu mengevaluasi diri mereka dan berupaya untuk menjadi lebih baik? Ada tiga golongan manusia jika kita relevansikan dengan karakteristik seorang manusia dan kemampuannya untuk berubah.
     Pertama. Ada sebagian individu yang memerlukan adanya suatu kejadian atau peristiwa, baik dalam skala kecil maupun besar untuk menyadarkan mereka atas hal-hal yang salah dalam diri mereka sehingga mereka perlu melakukan introspeksi, evaluasi, dan perubahan agar mereka menjadi individu yang lebih baik. Proses tersebut mungkin biasa kita sebut dengan pendewasaan. Adalah hal yang lumrah bagi kita sebagai manusia biasa memiliki begitu banyak kekurangan dan kesalahan dalam diri kita, sehingga dalam satu momentum hidup kita Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan suatu teguran dalam bentuk ujian kehidupan agar kita tersadar untuk memperbaiki diri kita dan berupaya menjadi individu yang lebih matang baik secara fisik, pemikiran, dan emosional.
     Kedua. Golongan individu ini tidak memerlukan adanya suatu kejadian ataupun peristiwa yang menegur mereka untuk mengintrospeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Ada kalanya proses pendewasaan itu terjadi secara alamiah tanpa disengaja, melalui aktivitas sehari-hari ataupun melalui proses perenungan diri sehingga secara spontan mereka berkeinginan sembari berupaya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dalam mengarungi dinamika hidup ini.
     Ketiga. Golongan individu ini sebetulnya sangat tidak relevan ketika kita menyangkut-pautkannya dengan hal yang bernama perubahan. Karena baik dengan adanya peristiwa kecil atau pun besar yang terjadi dalam hidup mereka, tidak akan pernah berhasil untuk membuat mereka tersadar akan kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam diri mereka. Mereka lebih suka menyalahkan orang lain atau keadaan atas peristiwa yang menerpa hidup mereka. Mereka berpendapat bahwa merekalah yang selalu berada dalam posisi benar. Jika rentetan kejadian saja tak mampu untuk membuat mereka tersadar, apalagi hanya sekedar renungan untuk dapat membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik? Karakteristik telah terbentuk dan tertanam sedemikian rupa dalam sanubari mereka sehingga mereka seolah sangat antipati dengan hal yang bernama introspeksi, evaluasi diri, juga keberanian untuk mengakui bahwa kesalahan dan kekurangan juga bersemayam dalam diri mereka layaknya manusia biasa pada umumnya.
      Sebagai sesama manusia, memang sangat diperlukan bagi kita untuk peduli kepada manusia lain untuk saling menasehati dan mengingatkan. Hal tersebutlah yang kita sebut sebagai salah satu wujud kemanusiaan yang nyata. Kepedulian terhadap sesama dalam upaya memperbaiki diri satu sama lain sangatlah penting demi terwujudnya lehidupan yang lebih baik. Namun, jikalau Tuhan tidak mengetuk dan membuka pintu hati kita atau orang yang kita peduli tersebut, rasanya sangat mustahil untuk mengharapakan perubahan itu hadir. Kita sebagai manusia hanya bisa berupaya sebaik mungkin untuk menyadarkan atau mencoba sadar, namun Tuhanlah yang mempunyai andil terbesar untuk membolak-balikan hati manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin adalah orang yang sesat".
    Termasuk kepada golongan yang manakah diri kita? Tanyakanlah pada hati kecil kita yang terdalam. Karena sesungguhnya suara hati kecil kita itu adalah bisikan dari Tuhan berupa petunjuk yang hakiki.


Rabu, 22 Maret 2017

Lupa Itu Tidak Ada



Lupa. Apa itu lupa?

Sedari kecil hingga beranjak dewasa tanpa kita sadari kita selalu diajarkan tentang hal-hal yang bersifat menghafalkan, mengingat, dan mengulang. Baik itu berupa nasihat, larangan, pembelajaran, dan lain sebagainya yang berasal dari kedua orang tua, guru saat kita duduk di bangku sekolah, atau pun pengajar saat kita memasuki jenjang perkuliahan, serta siapapun itu.

Kita ambil contoh ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Sehari-hari kita terus dihadirkan dengan proses menghafal atas pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Selanjutnya kita akan dipaksa untuk mengingat apa yang telah kita hafalkan tersebut untuk digunakan pada saat menghadapi ujian. Begitulah proses tersebut berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup kita.

Namun, pernahkah kita sadari bahwa seiring dengan perjalanan dan dinamika hidup yang kita alami, terdapat beberapa momentum kehidupan yang memaksa kita untuk belajar akan suatu hal yang bernama "lupa". Kita membutuhkan hal tersebut namun kita tidak pernah tahu persis bagaimana caranya. Mengapa? Karena kita terbiasa untuk menghafal, mengingat, dan mengulang selama kita hidup. Bahkan kita terkesan sangat antipati dengan kata "lupa" yang biasanya memang seolah-olah merupakan hal yang negatif bagi khalayak umum.

Pada akhirnya dengan segala keterbatasan yang kita miliki akan hal yang bernama "lupa" itu, kita berusaha memodifikasinya dengan hal lain yang memiliki esensi sama. Demi mendapatkan esensi tersebut, hal yang bisa dilakukan hanyalah sebatas menambah hafalan dan ingatan baru untuk mengisi ruang-ruang kosong di memori kita. Sehingga ingatan-ingatan lama pun dengan sendirinya akan terkubur dan tergantikan dengan ingatan-ingatan baru. Dengan demikian, seiring berjalannya waktu kita bisa mendapatkan esensi dari hal yang bernama "lupa" itu. Sebuah hal yang seringkali kita hindari, namun tak jarang kita butuhkan.

Jadi, apa itu lupa? Lupa itu tidak ada. Yang ada hanyalah mengubur ingatan lama dengan ingatan yang baru. Dan berusaha untuk tidak mengulang kembali ingatan yang telah terkubur itu. Karena sesungguhnya "lupa" adalah kegagalan untuk mengingat.

"Jalan yang menjadi pilihannya untuk menghadapi kenyataan yang ada. Yang kemudian terpaksa  kupilih pula menjadi jalanku. Waktu dan cara yang membuat segalanya begitu berbeda"

Senin, 02 Februari 2015

Kisah Tentang Sebilah Pisau

         
 "When love hurt you, it magically
 strengthen you at the same time"

         
       Pada hari itu aku merasa seolah ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan segala yang terjadi di hidupku biasanya. Seolah pada hari itu sesuatu yang bermakna akan terjadi. Hari itu angin berhembus sepoi-sepoi seolah malu pada sang mentari yang bersinar dengan begitu teriknya. Udara ibu kota tak seburuk biasanya. Hari itu kurasakan udara terasa lebih menyegarkan. Aku berjalan seorang diri menelusuri sebuah pasar barang antik di bilangan pusat ibu kota. Kala itu aku tak tahu entah apa yang ingin kucari disana. Mungkin memang tidak ada yang ingin kubeli. Mungkin aku hanya ingin melepas penatku dengan melihat koleksi barang-barang yang memiliki nilai historis disana. 
          Ketika sedang asyik memanjakan mataku melihat-lihat sekitar, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah benda yang dipajang disana. Sebuah pisau lipat yang sebetulnya untuk dikatakan antik pun tidak pantas. Pisau itu masih terlihat sangat bersih dan seperti memang bukan barang yang telah lama dibuat, namun tak mengurangi minatku pada benda tersebut. Aku pun menghampiri kios tempat dimana pisau lipat itu berada dan tanpa pikir panjang aku membeli pisau tersebut.  Ternyata harga pisau itu terbilang cukup mahal. Namun aku tetap membelinya. Padahal aku pun tak tahu untuk apa aku membeli pisau tersebut. Sebatas hanya ketertarikan yang membuatku membeli benda berbahaya tersebut.
          Setelah lelah berkeliling, aku pun mampir di sebuah kedai kopi. Sambil merenggangkan badan, kuletakan pisau itu di kedua tanganku. Kutelusuri seluk-beluk benda tajam itu. Setiap detail dari benda itu tak ada yang kulewati. Begitu mengagumkan untuk sebuah pisau lipat biasa. Karena terlalu menikmati keindahan benda tersebut, tanpa sadar tiba-tiba aku terhentak kesakitan. Kulihat jari telunjuk  kananku meneteskan darah. Ternyata saat aku mengelus sisi tajam dari pisau itu, jari telunjukku secara tak sadar tergores. Serentak aku teringat akan sebuah pesan dari sahabatku di kota kembang. Dulu ia pernah berkata padaku, "cinta itu serupa layaknya sebilah pisau yang sangat tajam namun indah. Ketika kita sibuk menikmati keindahannya dengan kedua mata kita, menyentuhnya dengan jemari kita, tanpa sadar kita bisa terluka karena goresannya. Maka itu, berhati-hatilah kawan akan sesuatu yang indah tersebut". Sejenak aku tersenyum. Mungkin inilah saat dimana semesta mulai berbicara. Ia ingin memberikan pertanda kepadaku, namun tak pernah kumengerti. Sehingga perlu dengan cara yang meyakitkanlah kadangkala ia harus memberitahuku.
          Sambil merenung sesaat, kuobati luka di jariku. Setelah itu kulipat bilah pisau itu, lalu aku masukan pisau itu ke tempatnya. Kusimpan benda itu baik-baik, agar tidak lagi melukai diriku ataupun orang lain. Kelak ketika kubutuhkan, akan kukeluarkan dari tempatnya dan kugunakan dengan semestinya sesuai fungsinya. Namun aku berharap saat itu datang bukanlah dengan kisah yang tragis. Melainkan pada saat itu benda yang terlihat berbahaya tersebut menunjukan sisi lainnya yang berguna bagi diri ini dan orang-orang di sekitarku. Aku tak pernah menyesal memiliki benda itu. Karena aku yakin, aku memang ditakdirkan untuk memiliki, menjaga, dan menggunakan benda itu. Begitu pula dengan hal yang kita semua miliki dan kita sebut dengan kata, "cinta".

Kamis, 29 Januari 2015

Gadis Berambut Merah


"Because love is something that strengthen, not weaken"


Dia. Ya, mungkin dia yang selama ini menjadi sumber dari segalanya.
Segala kegagalan yang aku alami, mengenai perasaanku terhadap yang lain.
Aku slalu mencoba dan mencoba untuk memberikan rasa ini kepada yang lain.
Namun selalu gagal dan gagal. Hingga aku sadari ternyata rasa itu masih dimiliki olehnya.
Mungkin akan selamanya dimiliki olehnya.

Aku sadar, keberadaanku ini mungkin tak diharapkan. Apalagi berkaca dari masa lalu, siapa aku ini?
Sepertinya aku paham mengapa ada keengganan dari dirinya untuk membuka hatinya padaku.
Mengesampingkan logika atas nama persahabatan bisa jadi salah satunya. Atau mungkin hal lain?
Tapi aku percaya bahwa dirinya tak senaif itu. Ia lebih istimewa dari yang kuduga.

Berbeda. Ya, aku dan dirinya sangat berbeda.
Tapi bukankah perbedaan itu yang membuat banyak insan bisa bersatu?
Dirinya dikelilingi begitu banyak manusia-manusia hebat yang jauh lebih baik dari diriku.
Mungkinkah hal itu yang membuat diriku tidak pantas mendampinginya?

Aku ingin memperlakukannya sebaik dulu aku pernah memperlakukan seseorang yang dekat dengannya. Namun aku takut. Aku takut luka itu terjadi lagi padaku.
Sebagian dari diriku  yang dulu telah mati! Diriku yang dulu tak ada lagi!
Mungkinkah sebagian dari diriku yang masih ada ini pantas untuk bersanding di sampingnya?

Apalah arti diri ini di matanya? Berbanding terbalik dengan dirinya di mataku.
Ia adalah sesuatu yang belum pernah hadir di hidupku sebelumnya.
Memberikan ketentraman dan kedamaian bagi jiwa yang pernah terluka ini.

Berjanjiku padanya. Jikalau ia bisa merasakan apa yang kurasakan kepadanya, maka di saat itulah aku akan menghapus kata-kata yang selama ini ia katakan, "tak ada waktu bagiku untuk cinta kasih".
Dan di saat itulah pasti akan kita temukan saat-saat paling bahagia dalam hidup ini.