Selasa, 28 Maret 2017

Aku Bukan Kaum Yahudi dan Kau Bukan Sang Messias

Pernahkah kau berfikir bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang seutuhnya benar?
Pernah pulakah kau berfikir bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang seutuhnya salah?
Bukankah sejatinya sebagai manusia biasa ciptaan Tuhan Yang Esa, kombinasi antara benar dan salah adalah hal hakiki yang pasti kita miliki? Begitu pula dengan diriku dan dirimu.
Aku bukan malaikat, iblis, apalagi Tuhan. Kau pun demikian.
Aku bukanlah layaknya kaum Yahudi yang dahulu kala menyiksa Sang Messias, menghakimi, lalu menghukumNya di kayu salib. Begitu pula dirimu bukanlah Sang Messias yang mengorbankan jiwa dan raga demi kebaikan umatNya, namun Ia malah mendapatkan siksaan serta hukuman, lalu kemudian diangkat ke surga karena pengorbanan-pengorbanan tersebut.
Coba sama-sama kita sadari, kita hanyalah manusia biasa. Mungkin aku penuh dengan berbagai kesalahan dan kekurangan, namun kubalut pula semua itu dengan kebaikan-kebaikan yang bisa kulakukan semampuku untuk memperjuangkan apa yang menurutku harus diperjuangkan.
Namun, mengapa engkau seolah-olah menutup sebelah mata semua realita tersebut? Mengapa kau menjadikanku pihak yang selalu berada dalam tumpukan kesalahan? Mengapa engkau selalu "menuhankan" dirimu atas segala kebeneran-kebenaran yang kau ciptakan sendiri? Bahkan engkau cap diriku sebagai pihak yang tak pernah merasa bersalah dan berkata bahwa aku selalu membenarkan diriku? Apakah kau tidak pernah bertanya balik kepada dirimu sendiri tentang argumenmu itu? Bahkan atas hal-hal yang di luar kendaliku, kau tetap menyalahkan diriku atas apa yang terjadi.
Aku terima jikalau kau mengatakan bahwa aku bersalah. Namun, aku tak dapat menerima jikalau kau menghakimi diriku sebagai pihak yang sepenuhnya bersalah dan kau pihak yang seutuhnya benar. Karena bukan demikianlah kodrat manusia.
Aku tak berharap kau akan berpikir apalagi menyadari semua hal itu. Karena aku tahu, harapan itu akan menjadi sebuah hal yang sia-sia. Lagipula, mustahil untuk menemukan kesalahan dan kekurangan dalam diri insan yang selalu menganggap dirinya sempurna dari kedua hal tersebut bukan?
Namun, untuk orang sepertimu, mungkin kau lebih bangga jikalau suatu saat nanti kita bersua, kau kupanggil dengan sebutan "Messias Sang Juru Selamat"? Hahahahaha. Tapi, yang kutahu Messias tidak terlahir di dunia ini untuk bersembunyi di dalam selimut gengsi dan keangkuhan demi menutupi kesalahan-kesalahannya. Dan Ia tidak pernah malu untuk mengakui kebenaran. Dan apabila kau berfikir bahwa apa yang kau rasakan saat ini adalah bagaikan surga yang diberikan Tuhan atas pengorbanan yang telah kau lakukan untuk diriku dulu sebagaimana layaknya kisah Sang Messias dan orang-orang Yahudi, rasanya itu hanya akan menjadi isapan jempol semata!
Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Om svaha.

Rabu, 22 Maret 2017

Lupa Itu Tidak Ada



Lupa. Apa itu lupa?

Sedari kecil hingga beranjak dewasa tanpa kita sadari kita selalu diajarkan tentang hal-hal yang bersifat menghafalkan, mengingat, dan mengulang. Baik itu berupa nasihat, larangan, pembelajaran, dan lain sebagainya yang berasal dari kedua orang tua, guru saat kita duduk di bangku sekolah, atau pun pengajar saat kita memasuki jenjang perkuliahan, serta siapapun itu.

Kita ambil contoh ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Sehari-hari kita terus dihadirkan dengan proses menghafal atas pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Selanjutnya kita akan dipaksa untuk mengingat apa yang telah kita hafalkan tersebut untuk digunakan pada saat menghadapi ujian. Begitulah proses tersebut berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup kita.

Namun, pernahkah kita sadari bahwa seiring dengan perjalanan dan dinamika hidup yang kita alami, terdapat beberapa momentum kehidupan yang memaksa kita untuk belajar akan suatu hal yang bernama "lupa". Kita membutuhkan hal tersebut namun kita tidak pernah tahu persis bagaimana caranya. Mengapa? Karena kita terbiasa untuk menghafal, mengingat, dan mengulang selama kita hidup. Bahkan kita terkesan sangat antipati dengan kata "lupa" yang biasanya memang seolah-olah merupakan hal yang negatif bagi khalayak umum.

Pada akhirnya dengan segala keterbatasan yang kita miliki akan hal yang bernama "lupa" itu, kita berusaha memodifikasinya dengan hal lain yang memiliki esensi sama. Demi mendapatkan esensi tersebut, hal yang bisa dilakukan hanyalah sebatas menambah hafalan dan ingatan baru untuk mengisi ruang-ruang kosong di memori kita. Sehingga ingatan-ingatan lama pun dengan sendirinya akan terkubur dan tergantikan dengan ingatan-ingatan baru. Dengan demikian, seiring berjalannya waktu kita bisa mendapatkan esensi dari hal yang bernama "lupa" itu. Sebuah hal yang seringkali kita hindari, namun tak jarang kita butuhkan.

Jadi, apa itu lupa? Lupa itu tidak ada. Yang ada hanyalah mengubur ingatan lama dengan ingatan yang baru. Dan berusaha untuk tidak mengulang kembali ingatan yang telah terkubur itu. Karena sesungguhnya "lupa" adalah kegagalan untuk mengingat.

"Jalan yang menjadi pilihannya untuk menghadapi kenyataan yang ada. Yang kemudian terpaksa  kupilih pula menjadi jalanku. Waktu dan cara yang membuat segalanya begitu berbeda"