Selasa, 14 November 2017

Tentang Sebuah Kebenaran : Kekuatan, Kejujuran, dan Bahasa Air Mata

      Agaknya kita seringkali terlena dengan dogma bahwa tangisan adalah lambang dari kelemahan. Apalagi ketika dikaitkan dengan jenis kelamin pria yang lekat dengan stereotype "Boys don't cry". Ya, sebuah lagu berjudul demikian menggema di telinga kita ketika dilantunkan oleh Robert Smith dari The Cure periode 1980-an. Namun, apa sesungguhnya kebenaran yang nyata di balik itu semua? Saya pribadi memiliki pandangan yang lain. 
      Tangisan adalah bentuk luapan otentik atas emosi atau ekspresi dari akumulasi perasaan yang tersimpan dalam sanubari kita sebagai manusia yang akhirnya tak terbendung lagi. Dalam konteks ini, saya menyebutnya dengan "bahasa air mata". Jika dikaitkan dengan kekuatan, justru sangat relevan korelasinya. Mengapa? Bukankah pribadi yang kuat adalah pribadi yang tidak mudah menitihkan air mata? Oh, tunggu dulu. Sepertinya pemikiran konservatif macam itu harus dihapus dari diri kita. Mungkin, bagi mereka yang berpura-pura terlihat kuat sehingga sedemikian rupa menahan tetesan air mata untuk tidak jatuh di wajahnya, pemikiran tersebut memang benar adanya. Namun, untuk insan-insan yang memang betul-betul berkepribadian kuat, untuk apa berpura-pura kuat seperti itu? Toh, dengan membiarkan tumpahnya air mata di wajah mereka tak membuat mereka terlihat lemah. Mereka justru mampu berhadapan dengan realita yang ada. Mereka mampu menghadapi emosinya sendiri. Mereka tidak terpengaruh atas pandangan orang lain. Jadi pertanyaanya, apakah kita bagian dari orang-orang yang betul-betul berkepribadian kuat atau hanya berpura-pura kuat?

      
      Di samping itu, jika dikaitkan bahasa air mata dengan kejujuran, maka hubungan yang erat bisa kita lihat secara jelas. Orang-orang yang jujur kepada diri mereka sendiri atas apa yang mereka rasakan, baik sedih, terharu, bahagia, terkejut, kesal, dan perasaan-perasaan lain yang pada akhirnya dapat mengakibatkan pecahnya sebuah tangisan adalah orang yang memiliki kejujuran yang tinggi. Mengapa? Karena sekali lagi saya tekankan bahwa mereka jujur pada diri mereka sendiri. Sedangkan orang-orang yang berusaha menyembunyikan perasaannya kepada khalayak dan bahkan kepada diri mereka sendiri adalah orang-orang yang patut dipertanyakan kejujurannya. Jangankan untuk berlaku jujur pada orang lain, toh pada dirinya sendiri pun mereka gemar berdusta. Bukankah hati yang lembut adalah hati yang peka pada perasaan yang dimilikinya? Bukankah dengan kita merasakan semua perasaan yang ada membuat hati kita menjadi terasah dan lebih peka akan kondisi yang ada? Menurut psikolog John Bradshaw dalam bukunya yang berjudul "Home Coming", bahwa kita perlu terisak menangis agar semua perasaan yang ada dalam diri kita dapat kita rasakan dengan sungguh-sungguh sehingga kita betul-betul tersadar apa yang terjadi dalam hidup kita. Dengan demikian, bukankah akan menjadi lebih mudah untuk menentukan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan dalam mengarungi kehidupan kita selanjutnya?
      Lalu, bagaimana sesungguhnya pribadi dengan kekuatan dan kejujuran bisa terwujud tanpa mengesampingkan hadirnya bahasa air mata dalam kehidupan yang ada? Pribadi yang kuat adalah pribadi yang jujur atas apa yang ia alami. Ia boleh saja terlihat berduka di hadapan orang lain. Namun, tanpa kepura-puraannya atas embel-embel kekuatan tadi, ia tetap dapat melakukan apa yang orang lain bisa lakukan walaupun kondisinya berbeda dengan kondisi yang sedang ia alami. Mungkin seseorang bisa terlihat sedang berduka dikarenakan permasalahan pribadi yang sedang ia alami, itu bukan masalah. Asalkan ia tetap bisa beraktivitas, melaksanakan kewajibannya, memberikan kontribusinya selayaknya orang yang sedang berbahagia pada saat yang bersamaan. Dan berhentilah terus menghakimi orang-orang yang sedang berada dalam kondisi tersebut dengan menyepelakannya dan menjadikan orang-orang tersebut sebagai bahan tertawaan. Sebaliknya, kita wajib bersama-sama merangkul demi menolong orang-orang yang sedang dalam kondisi sulit tersebut. Karena bisa jadi suatu hari giliran kita yang berada dalam kondisi yang sedang dialami orang tersebut.
      Jadi, berhentilah berbohong pada diri sendiri dan orang lan. Berhentilah berpura-pura menjadi kuat. Karena sesungguhnya kekuatan yang paling kuat adalah ketika kita mampu menjaga kejujuran kita tanpa embel-embel apapun.

Selasa, 26 September 2017

Distraksi

   

"Learn to fight all battles alone"  
     
    Bukan. Tulisan ini bukan tentang sebuah lagu dari solois jazz wanita berdarah oriental yang sedang digandrungi generasi muda dewasa kini. Ya, aku memang mengidolakannya. Namun, bukan tentang dia artikel ini kutulis.

      Bagiku orang-orang yang ada di sekitarku saat ini, baik itu sahabat, teman, kolega, orang yang lebih tua yang kukenal, ataupun orang yang lebih muda, mereka sedang menjalani hidupnya masing-masing dalam jalur yang benar. Jalur yang mereka buat sendiri ataupun jalur yang memang telah tersedia bagi mereka untuk menjalani hidupnya. Jalur tersebut mencakup segala aspek kehidupan mereka mulai dari karir, pendidikan, finansial, hobi, persahabatan, bahkan asmara. Mereka telah berada di jalur yang menurut pemahamanku adalah tepat adanya. Namun, berbeda denganku. Aku merasa berada di jalur yang tidak tepat. Bahkan, mungkin aku tidak berada di jalur manapun. Entah mungkin aku yang salah karena kurang berjuang atau pun semesta yang belum menyediakan jalur itu untukku. Yang jelas, ketika aku berusaha mewujudkan apa yang menjadi impianku dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, selalu saja gagal. Bahkan, rintangan dan hambatan kian menghadang. Entah dimana letak salahnya sehingga semua itu tidak tercapai. Apakah aku adalah pribadi yang terlalu negatif? Apakah aku hamba yang kurang bersyukur? Apakah ini cara Tuhan untuk memberitahuku bahwa cara-cara yang kupilih belum tepat? Aku pun selalu bersimpuh pada-Nya untuk meminta petunjuk nyata tentang jalan mana yang harus kutempuh. Namun, mungkin karena ketidakpekaanku atas cara-Nya menyampaikan petunjuk tersebut sehingga aku kembali jatuh. Atau mungkin memang Dia belum memberikan pertanda-pertanda tersebut?

      Semesta seolah-olah menjauhi diriku. Semesta seolah-olah menghukumku dengan kesendirianku ini. Dalam kondisi seperti ini aku merasakan suatu hal. Jikalau aku berusaha memasuki kehidupan mereka yang sudah tepat berada pada jalur hidupnya, aku hanya akan mengusik hidup mereka. Aku merasa aku hanya benalu bagi hidup mereka. Aku akan menyebabkan hidup mereka melenceng ke jalur yang salah. Begitu pun ketika aku mencoba menarik mereka masuk ke dalam hidupku yang seperti ini. Hanya distraksi yang membawa kehancuran yang akan terjadi. Wajar bila mereka enggan bersinggungan denganku dan kehidupanku. Bahkan aku merasa, ketika aku menilai diriku begitu berarti bagi mereka sebagaimana mereka begitu berarti bagiku, ternyata itu semua salah. Di mata mereka aku tak ada artinya. Kalau pun ada, itu hanya sekedar nilai rendah yang tak begitu berpengaruh dalan hidup mereka. Jangankan terpikir untuk kembali hidup bersama orang yang sesungguhnya masih bersemayam di hati ini. Untuk menata hidup ini pun sungguh berat rasanya. Alangkah mustahilnya dengan segala kekacauan di hidupku saat ini dan bayang-bayang keburukanku di masa lalu dapat membuatnya kembali disini. Karena setelah kusadari, ia juga merupakan orang yang telah menemukan jalur hidup yang tepat. Jikalau dipaksakan kami bersama, maka distraksi akan kembali terjadi. Tapi lebih dari itu, kenyataanya memang bagi dirinya aku tak lebih dari tumpukan sampah yang berbau anyir. Dan pastinya sejengkal langkah pun, ia tak akan sudi mendekat ke arahku. Mungkin memang aku harus belajar tentang cara mencintai ala Sang Buddha. Tidak memetik bunga yang kita sukai hanya untuk melihat bunga itu mati di tangan kita. Mungkin aku akan membiarkan hidupnya terus berada di jalurnya kini, wahai edelweiss-ku.

     Teringat tentang perkataan seorang sahabatku di sebuah kedai kopi larut malam yang lalu. Mungkin ia-lah salah satu orang yang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Karena menurutnya, hidupnya pun sedang tidak berada di jalur yang tepat. Ia berkata, "Yang aku inginkan tiap hari ketika aku terbangun dari tidurku adalah aku ingin malam segera datang. Mengapa? Agar aku bisa tertidur kembali". Ya, mungkin tidur adalah salah satu karunia Tuhan yang patut kusyukuri saat ini. Karena hanya dengan cara itulah, segala pergumulan yang ada di benak ini terhenti sementara. Semua tanya yang tak kunjung menemukan jawabnya mendadak hilang. Segalanya seketika tergantikan oleh cerita singkat di dunia fana yang bernama mimpi.

      Ah, sudahlah. Mungkin memang benar bahwa aku adalah seorang penjelajah yang terjajah. Seorang anak manja yang mengaku dirinya pemberontak. Yang aku tahu, bahwa atas segala yang sedang kuhadapi saat ini, aku harus menghadapinya seorang diri. 

Minggu, 06 Agustus 2017

Elegi Si Pengumpul Barang Bekas dan Satir Tentang Barang Dagangan



"What happened to the good old fashioned romance?"
"I thought it doesn't exist anymore. Nowadays"

            
         Ya, aku pikir yang namanya kesejatian itu memang tak ada lagi. Setidaknya dewasa ini. Yang ada saat ini hanyalah "barang dagangan". Barang yang ketika sudah tak ada lagi nilai gunanya, akan dibuang dan digantikan oleh barang baru yang masih memiliki nilai guna. Atau setidaknya barang yang memang belum pernah kita miliki dan gunakan. Pun ketika nilai guna barang tersebut belum habis, kita akan mencari barang lain yang sekiranya memiliki nilai guna yang masih lebih besar daripada yang telah kita gunakan. Mungkin kita bisa mencarinya di supermarket, pasar tradisional, toko-toko yang ada di dunia maya, ataupun di tempat-tempat yang tak terduga lainnya. Begitu sekiranya siklus tersebut berulang-ulang kali terus terjadi.
         Bukan, aku bukan orang yang demikian. Aku tak pernah berpikir bahwa nilai dari suatu barang tersebut akan habis. Bahkan aku sama sekali tak menanggapnya seperti barang yang akan habis nilai gunanya. Bagiku, semakin lama aku menggunakan barang tersebut, nilai dari barang itu malah makin bertambah dan bertambah. Dan tak pernah terpikir sedikit pun olehku untuk menukar barang itu dengan barang yang baru.
          Mungkin aku bukanlah pengguna barang yang baik. Yang lembut dalam menggunakannya. Yang merawatnya dengan baik sesuai petunjuk penggunaan barang tersebut. Tapi bagiku, barang yang sudah kumiliki itu akan tetap ada nilainya walau berapa lamapun telah kumiliki barang itu. Setidaknya, aku mencoba dengan sangat keras untuk menjaga barang tersebut tetap elok dan kutaruh barang itu di tempat terbaik yang kumiliki.
             Ini bukan tentang cerita dari negeri dongeng ataupun cerita tentang putri cantik yang menemukan cinta sejatinya dari seorang pangeran tampan nan gagah berkuda. Ini cuma sebuah celotehan belaka dari seorang yang mereka bilang lemah, cengeng, melankolis, dramatis, dan berbagai kata lain yang mendeskripsikan hal-hal buruk yang keluar dari mulut mereka yang ternyata baru kupahami bahwasanya mereka adalah orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di tempat-tempat dimana "barang dagangan" tersebut diperjual-belikan. 
         Selamat berdagang. Semoga meraup untung sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa, bahwa jauh disana ada tempat yang kalian pikir adalah tempat sampah, tempat yang mungkin enggan kalian kunjungi, tempat dimana barang-barang bekas tersebut bisa didaur ulang dan digunakan kembali menjadi sesuatu yang lebih baik. Tempat dimana aku (si pengumpul barang bekas) bersemayam. Om svaha.

Jumat, 04 Agustus 2017

Dunia Kedua

        Akhir-akhir ini aku senang sekali membaca penelitian-penelitian yang berhubungan dengan dunia antariksa, terutama perihal pencarian-pencarian tempat tinggal baru bagi umat manusia menggantikan planet bumi ini. Andaikan suatu saat para astronot dan astronom dapat menemukan sebuah tempat yang ternyata bisa dijadikan tempat tinggal manusia selain bumi ini, tentunya mereka membutuhkan sekumpulan orang-orang yang akan dijadikan percobaan pertama sebagai populasi baru untuk dapat hidup di tempat yang baru tersebut. Dan jika aku diberi kesempatan, aku ingin sekali menjadi salah satu dari orang-orang yang dikirim ke tempat tinggal baru tersebut. Mengapa? Bukan berarti aku tidak mencintai bumi ini. Bumi ini sangatlah indah. Mungkin, bumi adalah tempat terbaik yang diciptakan Tuhan sebagai tempat tinggal kita para makhluk ciptaan-Nya. Namun, ada hal lain yang membuatku tergugah sehingga terpikir untuk meninggalkan bumi ini.
        Menurutku segala yang ada di bumi atau dunia ini sudah sangat kompleks. Sudah tidak ada lagi kesederhanaan yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Terlalu banyak pilihan-pilihan yang seringkali membuat manusia menjadi tidak bijak dan cenderung egois menjalani kehidupan ini. Perselisihan, permusuhan, dan pertengkaran yang bersumber dari perbedaan sudah menjadi hal yang sangat lumrah di dunia ini. Kita sebagai manusia sudah sangat enggan untuk berkompromi, bertoleransi, dan melakukan usaha lebih untuk menerima perbedaan itu sebagai suatu hal yang mau tak mau harus kita terima. Mengapa demikian? Karena kita diberi begitu banyak pilihan yang mengedepankan kesamaan dan membuat kita seolah-olah mengambil kesimpulan bahwa perbedaan adalah hal yang sangat harus dihindari. Perbedaan agama, warna kulit, jenis kelamin, suku, kewarganegaraan, ideologi, pemikiran, hingga kepribadian kerap kali menjadi sumber perpecahan di belahan manapun di dunia ini. Itu semua terjadi karena kita merasa bahwasanya kita tidak perlu menerima semua perbedaan itu dengan lapang dada. Toh, masih banyak orang-orang, kaum, golongan, atau kelompok lain yang memiliki banyak kesamaan dengan diri kita. Jangankan untuk berusaha bertoleransi dan berkompromi, untuk menerima perbedaan itupun kita sudah enggan.

        
        Kita ambil analogi. Andai kata di Kota Jakarta hanya ada 3 manusia yang hidup disana. Kita sebut mereka dengan inisial A, B, dan C. Mereka bertiga bersahabat. Namun, pada suatu saat karena berbagai perbedaan yang ada membuat A bersitegang dengan B, sedangkan B dan C masih tetap bersahabat. Karena keadaan tersebut A menjauhi B. Dengan demikian, secara otomatis A pun tidak dapat bersahabat lagi dengan C yang masih sangat dekat dengan B, dan memiliki sekian banyak kesamaan. Akhirnya A pun memutuskan untuk hidup seorang diri di kota tersebut. Namun, apakah bisa A hidup seorang diri dan mengkhianati kodratnya yaitu sebagai seorang manusia yang notabene adalah makhluk sosial? Jawabannya sudah pasti tidak akan bisa. Akhirnya karena ketidakmampuannya tersebut, A pun menurunkan egonya dan mulai berkompromi serta bertoleransi dengan B juga C. Ia akan berusaha untuk melupakan masalah yang terjadi, memaafkan, dan kembali menjalin hubungan baik dengan kedua orang tersebut. Karena jika ia tidak melakukan hal itu, tidak ada pilihan lain untuk A menjalin hubungan dengan manusia lain di Kota Jakarta itu. Namun, jikalau disana terdapat 1 orang lagi (sebut saja D) yang tidak mengenal B dan C, ia pasti akan berpikir ulang untuk menjalani hubungan kembali dengan B dan C, lalu memilih untuk mulai membina hubungan baru dengan D.
        Sekali lagi aku katakan bahwa seringkali dengan adanya begitu banyak pilihan, manusia menjadi kurang bijak dan meninggikan ego mereka dengan asumsi masih banyak pilihan-pilihan lain atau manusia-manusia lain yang mau "menerima" mereka tanpa mereka mencoba "menerima". Adanya banyak pilihan memang dapat membawa berbagai hal positif dalam hidup kita. Namun, sadarkah bahwa kita telah melupakan hal-hal negatif yang menguntai dari tersedianya begitu banyak pilihan yang ada. Ya, begitulah realita yang ada dewasa ini. Apa mau dikata? Memang sudah begitu adanya. Tinggal kita melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita adalah manusia yang terlarut oleh realita yang ada? Atau kita adalah manusia yang selalu berusaha menjadikan realita sebagai sesuatu yang bisa diwujudkan? Tentunya realita yang ideal adalah realita yang baik dan indah. Mungkin memang ada baiknya jika "dunia kedua" itu nyata adanya di kehidupan ini. Dan membuat manusia menyadari bahwa hubungan yang baik dan intim antar satu manusia dengan manusia lain adalah sebuah hal sederhana yang tak ternilai harganya. Amin. 
.

Senin, 01 Mei 2017

Perubahan dan Tiga Golongan Manusia

                            "Knowing yourself is the beginning of all wisdoms" -Aristotle

    Perubahan. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak dapat berubah. Perubahan kita perlukan sebagai salah satu upaya perbaikan diri dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai seorang individu serta hubungannya dengan lingkungan sekitar. Namun, sadarkah kita bahwa tidak semua individu mampu mengevaluasi diri mereka dan berupaya untuk menjadi lebih baik? Ada tiga golongan manusia jika kita relevansikan dengan karakteristik seorang manusia dan kemampuannya untuk berubah.
     Pertama. Ada sebagian individu yang memerlukan adanya suatu kejadian atau peristiwa, baik dalam skala kecil maupun besar untuk menyadarkan mereka atas hal-hal yang salah dalam diri mereka sehingga mereka perlu melakukan introspeksi, evaluasi, dan perubahan agar mereka menjadi individu yang lebih baik. Proses tersebut mungkin biasa kita sebut dengan pendewasaan. Adalah hal yang lumrah bagi kita sebagai manusia biasa memiliki begitu banyak kekurangan dan kesalahan dalam diri kita, sehingga dalam satu momentum hidup kita Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan suatu teguran dalam bentuk ujian kehidupan agar kita tersadar untuk memperbaiki diri kita dan berupaya menjadi individu yang lebih matang baik secara fisik, pemikiran, dan emosional.
     Kedua. Golongan individu ini tidak memerlukan adanya suatu kejadian ataupun peristiwa yang menegur mereka untuk mengintrospeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Ada kalanya proses pendewasaan itu terjadi secara alamiah tanpa disengaja, melalui aktivitas sehari-hari ataupun melalui proses perenungan diri sehingga secara spontan mereka berkeinginan sembari berupaya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dalam mengarungi dinamika hidup ini.
     Ketiga. Golongan individu ini sebetulnya sangat tidak relevan ketika kita menyangkut-pautkannya dengan hal yang bernama perubahan. Karena baik dengan adanya peristiwa kecil atau pun besar yang terjadi dalam hidup mereka, tidak akan pernah berhasil untuk membuat mereka tersadar akan kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam diri mereka. Mereka lebih suka menyalahkan orang lain atau keadaan atas peristiwa yang menerpa hidup mereka. Mereka berpendapat bahwa merekalah yang selalu berada dalam posisi benar. Jika rentetan kejadian saja tak mampu untuk membuat mereka tersadar, apalagi hanya sekedar renungan untuk dapat membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik? Karakteristik telah terbentuk dan tertanam sedemikian rupa dalam sanubari mereka sehingga mereka seolah sangat antipati dengan hal yang bernama introspeksi, evaluasi diri, juga keberanian untuk mengakui bahwa kesalahan dan kekurangan juga bersemayam dalam diri mereka layaknya manusia biasa pada umumnya.
      Sebagai sesama manusia, memang sangat diperlukan bagi kita untuk peduli kepada manusia lain untuk saling menasehati dan mengingatkan. Hal tersebutlah yang kita sebut sebagai salah satu wujud kemanusiaan yang nyata. Kepedulian terhadap sesama dalam upaya memperbaiki diri satu sama lain sangatlah penting demi terwujudnya lehidupan yang lebih baik. Namun, jikalau Tuhan tidak mengetuk dan membuka pintu hati kita atau orang yang kita peduli tersebut, rasanya sangat mustahil untuk mengharapakan perubahan itu hadir. Kita sebagai manusia hanya bisa berupaya sebaik mungkin untuk menyadarkan atau mencoba sadar, namun Tuhanlah yang mempunyai andil terbesar untuk membolak-balikan hati manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin adalah orang yang sesat".
    Termasuk kepada golongan yang manakah diri kita? Tanyakanlah pada hati kecil kita yang terdalam. Karena sesungguhnya suara hati kecil kita itu adalah bisikan dari Tuhan berupa petunjuk yang hakiki.


Selasa, 28 Maret 2017

Aku Bukan Kaum Yahudi dan Kau Bukan Sang Messias

Pernahkah kau berfikir bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang seutuhnya benar?
Pernah pulakah kau berfikir bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang seutuhnya salah?
Bukankah sejatinya sebagai manusia biasa ciptaan Tuhan Yang Esa, kombinasi antara benar dan salah adalah hal hakiki yang pasti kita miliki? Begitu pula dengan diriku dan dirimu.
Aku bukan malaikat, iblis, apalagi Tuhan. Kau pun demikian.
Aku bukanlah layaknya kaum Yahudi yang dahulu kala menyiksa Sang Messias, menghakimi, lalu menghukumNya di kayu salib. Begitu pula dirimu bukanlah Sang Messias yang mengorbankan jiwa dan raga demi kebaikan umatNya, namun Ia malah mendapatkan siksaan serta hukuman, lalu kemudian diangkat ke surga karena pengorbanan-pengorbanan tersebut.
Coba sama-sama kita sadari, kita hanyalah manusia biasa. Mungkin aku penuh dengan berbagai kesalahan dan kekurangan, namun kubalut pula semua itu dengan kebaikan-kebaikan yang bisa kulakukan semampuku untuk memperjuangkan apa yang menurutku harus diperjuangkan.
Namun, mengapa engkau seolah-olah menutup sebelah mata semua realita tersebut? Mengapa kau menjadikanku pihak yang selalu berada dalam tumpukan kesalahan? Mengapa engkau selalu "menuhankan" dirimu atas segala kebeneran-kebenaran yang kau ciptakan sendiri? Bahkan engkau cap diriku sebagai pihak yang tak pernah merasa bersalah dan berkata bahwa aku selalu membenarkan diriku? Apakah kau tidak pernah bertanya balik kepada dirimu sendiri tentang argumenmu itu? Bahkan atas hal-hal yang di luar kendaliku, kau tetap menyalahkan diriku atas apa yang terjadi.
Aku terima jikalau kau mengatakan bahwa aku bersalah. Namun, aku tak dapat menerima jikalau kau menghakimi diriku sebagai pihak yang sepenuhnya bersalah dan kau pihak yang seutuhnya benar. Karena bukan demikianlah kodrat manusia.
Aku tak berharap kau akan berpikir apalagi menyadari semua hal itu. Karena aku tahu, harapan itu akan menjadi sebuah hal yang sia-sia. Lagipula, mustahil untuk menemukan kesalahan dan kekurangan dalam diri insan yang selalu menganggap dirinya sempurna dari kedua hal tersebut bukan?
Namun, untuk orang sepertimu, mungkin kau lebih bangga jikalau suatu saat nanti kita bersua, kau kupanggil dengan sebutan "Messias Sang Juru Selamat"? Hahahahaha. Tapi, yang kutahu Messias tidak terlahir di dunia ini untuk bersembunyi di dalam selimut gengsi dan keangkuhan demi menutupi kesalahan-kesalahannya. Dan Ia tidak pernah malu untuk mengakui kebenaran. Dan apabila kau berfikir bahwa apa yang kau rasakan saat ini adalah bagaikan surga yang diberikan Tuhan atas pengorbanan yang telah kau lakukan untuk diriku dulu sebagaimana layaknya kisah Sang Messias dan orang-orang Yahudi, rasanya itu hanya akan menjadi isapan jempol semata!
Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Om svaha.

Rabu, 22 Maret 2017

Lupa Itu Tidak Ada



Lupa. Apa itu lupa?

Sedari kecil hingga beranjak dewasa tanpa kita sadari kita selalu diajarkan tentang hal-hal yang bersifat menghafalkan, mengingat, dan mengulang. Baik itu berupa nasihat, larangan, pembelajaran, dan lain sebagainya yang berasal dari kedua orang tua, guru saat kita duduk di bangku sekolah, atau pun pengajar saat kita memasuki jenjang perkuliahan, serta siapapun itu.

Kita ambil contoh ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Sehari-hari kita terus dihadirkan dengan proses menghafal atas pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Selanjutnya kita akan dipaksa untuk mengingat apa yang telah kita hafalkan tersebut untuk digunakan pada saat menghadapi ujian. Begitulah proses tersebut berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup kita.

Namun, pernahkah kita sadari bahwa seiring dengan perjalanan dan dinamika hidup yang kita alami, terdapat beberapa momentum kehidupan yang memaksa kita untuk belajar akan suatu hal yang bernama "lupa". Kita membutuhkan hal tersebut namun kita tidak pernah tahu persis bagaimana caranya. Mengapa? Karena kita terbiasa untuk menghafal, mengingat, dan mengulang selama kita hidup. Bahkan kita terkesan sangat antipati dengan kata "lupa" yang biasanya memang seolah-olah merupakan hal yang negatif bagi khalayak umum.

Pada akhirnya dengan segala keterbatasan yang kita miliki akan hal yang bernama "lupa" itu, kita berusaha memodifikasinya dengan hal lain yang memiliki esensi sama. Demi mendapatkan esensi tersebut, hal yang bisa dilakukan hanyalah sebatas menambah hafalan dan ingatan baru untuk mengisi ruang-ruang kosong di memori kita. Sehingga ingatan-ingatan lama pun dengan sendirinya akan terkubur dan tergantikan dengan ingatan-ingatan baru. Dengan demikian, seiring berjalannya waktu kita bisa mendapatkan esensi dari hal yang bernama "lupa" itu. Sebuah hal yang seringkali kita hindari, namun tak jarang kita butuhkan.

Jadi, apa itu lupa? Lupa itu tidak ada. Yang ada hanyalah mengubur ingatan lama dengan ingatan yang baru. Dan berusaha untuk tidak mengulang kembali ingatan yang telah terkubur itu. Karena sesungguhnya "lupa" adalah kegagalan untuk mengingat.

"Jalan yang menjadi pilihannya untuk menghadapi kenyataan yang ada. Yang kemudian terpaksa  kupilih pula menjadi jalanku. Waktu dan cara yang membuat segalanya begitu berbeda"